Langsung ke konten utama

My Story-part8

My Story-part8

Oleh : Novita Sari

Aku mulai ketakutan dan depresi untung saat itu kedua orangtuaku memberi semangat, membuatku bangkit kembali.

Perlahan semangat belajarku mulai kembali, setiap hari sepulang sekolah, aku selalu mempelajari materi kembali hingga bisa, meskipun sulit.

Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Aku mulai bisa membaca dengan lancar tanpa tergagap, nilaiku juga mulai membaik.

Tidak terasa aku sudah kelas 6 sekarang, aku juga mempunyai banyak teman sekarang, ada Sarah, Putri dan Siska. Entah sejak kapan keadaan mulai berubah.

Evi tidak punya banyak teman, satu persatu dari mereka menjauh tidak tahan dengan sikapnya sementara. Nayla, aku bisa melihat ia seperti menyesal sekarang, entahlah mungkin perasaanku saja.

Saat itu guru mengadakan sebuah ujian IPA dan aku termasuk lima besar yang mendapat nilai tertinggi. Aku bersyukur meskipun tidak mendapat peringkat satu, bagiku itu lebih dari cukup, semua teman kelas juga mulai menghargaiku.

Terkadang beberapa dari mereka, meminta bantuanku menyelesaikan tugas maka, aku dengan senang hati menjelaskannya.

Hingga suatu hari, datang mobil ke sekolahku, seperti sebuah mobil ajaib, terdapat banyak buku dongeng yang menarik.

"Wah, lihatlah buku ini ceritanya bagus dan memiliki gambar," ungkap Putri yang lebih senang melihat gambar dibandingkan membaca tulisan.

Siska yang penasaran ikut melihat buku yang sedang dipegang Putri, aku tersenyum melihat tingkah mereka.

Aku bangkit untuk memilih buku yang lain, "mau kemana?" Tanya Siska.

Bersambung.

#odopbatch7
#onedayonepost
#groupkairo





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota kenangan Oleh: Novita Sari Sumber:www.jawapos.com Apa jadinya tempat tinggal kami? Jika hari ini kotanya, penuh sampah. Tumpukan Plastik seolah pemandangan yang lazim Jalanan macet seolah rutinitas Adakah dari kita yang ingin membedah. Bumi bahkan tak mampu lagi menahan Setiap kelakuan si perusak yang makin merajalela Pohon ditebang begitu saja. Asap menggumpal mematikan setiap oksigen yang mencoba bertahan Bahkan Udara segar hanya tinggal kenangan. Sungguh! Mata ini tak sanggup lagi melihat Seluruh tubuh ini basah oleh ketidakmampuan Apa yang kau inginkan dari kota kami Ia tak lagi elok seperti dulu. Tak adakah dari mereka yang merasa kasihan Melihat kota ini semakin lemah tak berdaya Tolong! Kembalikan oksigen kami Tolong! Kembalikan kota kami seperti dulu. Namun percuma... Rintihan kami tak akan pernah didengar Ditutupi keinginan sepenggal orang yang ingin memperkaya diri Hingga akhirnya kota ini benar-benar mati. Aceh, 15 Septem...
Fiksi dan Non fiksi Sumber: blog.bukupedia.com Ibarat kata, hati sudah menemukan keputusan tempat berlabuh. Hanya saja diperjalanan badai dan ombak,  seolah membuat perahu terombang-ambing di tengah lautan. Hidup selalu memberi dua pilihan, tergantung kita memilih yang mana, namun, percayalah hati punya jawaban terbaik untuk itu. Akhirnya sebuah keputusan harus ku ambil. Fiksi kah atau Non fiksi? Tentu saja aku memilih fiksi, disana aku bebas berimajinasi, membuat jalan cerita yang kusukai. Menciptakan tokoh sesuai keinginan. Aku suka menulis novel, namun terkadang ditengah perjalanan aku selalu merasa bosan, rasa malas menyerang membuatku berhenti menyelesaikannya. Semoga dengan mengikuti ODOP semangatku menjadi lebih kuat, banyak ilmu yang sudah ku dapat dari sana dan bisa menyelesaikan ceritaku hingga akhir. #odopbatch7 #onedayonepost #groupkairo

My Story-part9

My Story-part9 Oleh : Novita Sari Aku bangkit untuk memilih buku yang lain, "mau kemana?" Tanya Siska. "Mau milih buku lain, ini udah selesai baca," ujarku sembari memilih buku yang menarik. Pandanganku berhenti pada sebuah buku, aku ingat sekali judulnya 'nasehat udang tua' hanya saja buku tersebut cukup jauh untukku raih. Sebuah tangan membantuku mengambilnya, aku menerima buku tersebut dengan senang, sambil melihat orang yang sudah membantuku mengambilnya. Senyum diwajahku hilang, setelah menyadari siapa yang membantuku, "Nayla," batinku. Saat itu, aku bisa merasakan suasana sangat canggung, "Terimakasih," ucapku langsung pergi dari sana. Andai saja dulu aku dan Nayla tetap berteman pasti sangat menyenangkan tetapi,  tak apa karena aku bersyukur dengan kejadian itu membuatku lebih dewasa menyikapi masalah. Aku juga sedang mencoba berdamai dengan masa lalu, memaafkan semua orang yang menyakitiku. Sejak saat itu s...