Langsung ke konten utama
Dia yang Mengawasiku
Oleh :Novita sari


Sudah seminggu keluargaku pindah ke rumah baru, yang terletak di dekat hutan yang jauh dari keramaian. Rumah yang tampak minimalis dengan arsitektur klasik membuat tempat yang ku tempati tampak seperti bangunan tua yang megah.

Paginya, aku masih sibuk berkutat di depan laptop kesayanganku sambil menonton film horor favorite.

"Keyla." Panggilan itu membuatku menghentikan aktivitas. Segera aku menutup laptop lalu pergi ke sumber suara.

"Ma, tadi mama panggil Keyla kan, memang nya ada apa ma?" tanyaku pada mama yang berada di depan pintu kamar.

Mama hanya menatap heran ke arah ku. "tidak, mama tidak memanggilmu."

"Ih, mama bercanda terus, kalau bukan mama siapa coba, kakak sama ayah kan lagi di luar," ujarku memasang ekspresi cemberut.

"Mungkin perasaan kamu aja, sana balik. Mama mau bobo," Mama masuk menutup pintu kamar.

Aku mengerutkan alisku dengan menaikkan sedikit kedua bahu setelah itu, aku kembali ke kamar.

Anehnya, saat aku kembali ke kamar laptopku terbuka, padahal tadi aku ingat betul kalau aku sudah menutupnya tadi.

"Mungkin hanya perasaan ku saja," batin ku

Awalnya aku hanya cuek dengan semua hal aneh yang terjadi hingga, lama kelamaan aku mulai merasa terganggu, bahkan ada yang membuat ku ketakutan. Sampai akhirnya aku tidak pernah mau tidur di kamar sendiri, apalagi mimpi buruk yang aku alami beberapa waktu yang lalu membuatku semakin ketakutan.

Hingga suatu malam. Hal aneh itu telah kembali terjadi ketika kegelapan tiba, ia kembali menggangu tidurku.

Tap tap.

Suara langkah kaki yang bahkan terdengar menyedihkan. Aku bisa merasakan ia terus melangkah mendekati kamar, ku tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Sekujur tubuh mulai gemetar, ingin rasanya aku berteriak tapi tenggorokan terasa sangat kering.

Tap tap.

Suara itu kini terdengar lebih keras dan samakin keras, kau tau apa artinya itu?. Makhluk itu semakin dekat bahkan mungkin sekarang ia berada di depan pintu.

Hening.

Saat itu aku merasa ia mungkin sudah pergi, aku pun melonggarkan selimut, menurunkannya dan melihat ke arah pintu dengan seksama.

Brukk brukkk.

Suara yang awal nya tenang berubah menakutkan. Aku langsung menarik selimut kembali.

Ia sekarang mulai masuk ke kamarku. Aku bisa merasakan nya, ia kini semakin dekat, keringat dingin bercucuran di seluruh tubuh.

"Ibu, ayah, cepat lah kemari."

"Kakak, aku takut sekali." Aku terus bergumam di dalam hati, berharap ada orang yang datang mengusir mahkluk itu pergi.

Sayangnya, tidak akan ada orang yang mendengarkan aku. Ketakutanku mencapai puncak ketika mahkluk itu berdiri tepat di hadapanku. Aku bisa merasakan ia mulai menarik selimut perlahan. Hingga akhirnya aku bisa melihat wajahnya yang setengah hancur dengan darah segar yang terus keluar dari matanya. Rambut nya yang panjang dengan tangan yang tampak membusuk membuatku jijik.

Tepat saat ia menatap ku dengan sorotan mematikan aku langsung berteriak histeris.

"AAaaaaaaaaaaKkk!" Aku langsung berteriak dengan suara sekeras kerasnya.

"Dek."

"Dek."

"Bangun!"

Perlahan aku membuka mata dan melihat sekeliling.Terlihat kakak menatap cemas ke arah ku.

"Ada apa?" tanyanya namun,tidak segeraku jawab. Aku langsung memeluknya erat sambil menangis ketakutan.

"Sudah, tidak apa kau tadi hanya mimpi buruk," ujar nya menenangkan.

Ia mengusap kepalaku, menyuruh kembali tidur.
"Tidur lah, aku akan menemanimu," ucap nya. Aku pun menurut dan kembali tidur.

Keesokan harinya, aku bangun dan melihat sekeliling kamar. Alangkah terkejutnya, saat menemukan bercak darah yang berbentuk telapak kaki ada di lantai kamarku aku pun berlari keluar memberi tahukan hal tersebut kepada ayah, ibu, dan kakak.

Anehnya, ketika mereka datang jejak itu hilang, secara misterius seolah tidak pernah ada noda darah di sana.

"Sudahlah nak, kau pasti masih terbawa mimpi," ujar mama.

"Ya sudah sana mandi dan mulai bersiap untuk mulai sekolah," tambah papa

Aku pun menuruti mereka, segera ku langkah kan kaki ku untuk bersiap siap pergi sekolah.

Setelah selesai, aku pun bersiap berangkat sekolah.Entah lah saat aku meninggalkan rumah, aku merasa ada seseorang yang berada di jendela kamarku. Seolah terus memata-mataiku.

"Sudahlah," batinku berusaha untuk tidak perduli dan akhirnya aku pun berangkat sekolah seperti biasa.


#odopbatch7
#onedayonepost
#groupkairo


Komentar

  1. Mungkin perasaan kamu aja, sana balik. Mama mau bobo[.]" Mama masuk menutup pintu kamar.

    Atau Mungkin perasaan kamu aja, sana balik. Mama mau bobo," kata mama masuk menutup pintu kamar.

    Jangan pakai huruf kapital setelah tanda baca koma. Kalo mau kapital, pake tanda baca titik. :)

    BalasHapus
  2. Wahhhh...bagus ceritanya 😍😍😍

    BalasHapus
  3. Sudahlah nak, kau pasti masih terbawa mimpi," ujar Ibu.

    Mbak nya mau pakai mama atau ibu?😅

    BalasHapus
  4. Ceritanya dibuat lebih horror lagi Kak :D, btw gantung yaa... semoga ada terusanya

    BalasHapus
  5. Onomatope seperti "Buukk!" itu bisa diganti dengan "suara berdebum itu langsung membuat suasana semakin menyeramkan." atau pilihan kalimat lain. Karena kalo dibaca agak kurang nyaman. Kalau yg "tap tap" mungkin ga masalah, karena untuk menambah visualisasi si suara aneh—kurang bisa dijelaskan dengan kalimat. Kemudian teriakan kayak "Aaakkk!!" itu terlalu lebay, bisa disederhanakan dengan "Aku memekik sekencang-kencangnya, sembari memaksa kaki berlari lekas-lekas." misalnya gitu. Lebih dapat nuansa horornya. Selebihnya udah bagus. Semangat menulis, ya :)

    BalasHapus
  6. wah masih belum di lanjut ya kak.padahal sudah di tunggu hehe

    BalasHapus
  7. Keseringan itu padahal.kita aja yang.parno sendiri hahha

    BalasHapus
  8. Ikutan merinding bacanya... Mana baca pas sendirian.. udah pada tidur semua orang serumah.. hii takuut.

    BalasHapus
  9. Cerita horor yang singkat dan mengena.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Story-part9

My Story-part9 Oleh : Novita Sari Aku bangkit untuk memilih buku yang lain, "mau kemana?" Tanya Siska. "Mau milih buku lain, ini udah selesai baca," ujarku sembari memilih buku yang menarik. Pandanganku berhenti pada sebuah buku, aku ingat sekali judulnya 'nasehat udang tua' hanya saja buku tersebut cukup jauh untukku raih. Sebuah tangan membantuku mengambilnya, aku menerima buku tersebut dengan senang, sambil melihat orang yang sudah membantuku mengambilnya. Senyum diwajahku hilang, setelah menyadari siapa yang membantuku, "Nayla," batinku. Saat itu, aku bisa merasakan suasana sangat canggung, "Terimakasih," ucapku langsung pergi dari sana. Andai saja dulu aku dan Nayla tetap berteman pasti sangat menyenangkan tetapi,  tak apa karena aku bersyukur dengan kejadian itu membuatku lebih dewasa menyikapi masalah. Aku juga sedang mencoba berdamai dengan masa lalu, memaafkan semua orang yang menyakitiku. Sejak saat itu s...
My Story Oleh:Novita Sari Bodoh. Bodoh. Dan Bodoh. Kata itu, sering terdengar. Semua orang di kelas memanggilku dengan sebutan itu. Teman. Tentu saja aku tidak punya, sejak Tk hingga SD aku selalu sendiri. Mereka hanya mendekatiku jika perlu bantuan atau ketika aku punya mainan baru, miris memang tapi, aku mulai terbiasa dengan hal tersebut. Hingga suatu hari aku pindah sekolah. Saat itu, aku masih kelas empat SD dan aneh nya aku masih belum bisa membaca. Mungkin memang pantas aku disebut bodoh. Sekolah baru, suasana dan tempat  yang kiniku tempati lebih baik dari sekolah dulu. Setidaknya aku punya seorang teman namanya Nayla. Ia cantik dan juga baik. "Nayla." ujarnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Awalnya aku ragu menerima uluran tangan orang yang duduk di sampingku. "Ana," ucapku. Kami pun tersenyum satu sama lain. Tidak terasa bahwa hariku mulai berubah, semuanya tampak lebih menyenangkan di bandingkan dul...
My Story-part4 Oleh : Novita Sari Kami memutuskan untuk bermain dan meninggalkan PR matematika begitu saja. Tanpa beban, tanpa ketakutan hanya ada kata bahagia. Punya teman memang sangat menyenangkan karena ketika kita masih kecil yang kita butuhkan hanya main dan main. Kami berlarian, bermain petak umpet, boneka dan permainan seru lainnya. Kuharap persahabatan kami akan terus bertahan selamanya. "Kenapa tersenyum ke arahku ?" tanya Nayla heran. Aku langsung menggeleng pelan sembari kembali menatap langit bersama. Setelah selesai bermain, kami kembali mengerjakan PR matematika. Hingga sore hari. * * * "Lihat aku punya buku baru." Evi kemudian menunjukkan buku bersampul barbie yang ia pegang. Aku sebenarnya sebenarnya tidak terlalu suka sikap Evi, ia terlalu pemilih, sombong dan juga pamer seperti saat ini. Selang beberapa menit, pelajaran pun di mulai. "Hari ini, ibu ingin kalian membaca di depan kelas," ungkap Bu Ratna_Gu...