Langsung ke konten utama


My Story

Oleh:Novita Sari


Bodoh.

Bodoh.

Dan

Bodoh.

Kata itu, sering terdengar. Semua orang di kelas memanggilku dengan sebutan itu.

Teman.

Tentu saja aku tidak punya, sejak Tk hingga SD aku selalu sendiri.

Mereka hanya mendekatiku jika perlu bantuan atau ketika aku punya mainan baru, miris memang tapi, aku mulai terbiasa dengan hal tersebut.

Hingga suatu hari aku pindah sekolah. Saat itu, aku masih kelas empat SD dan aneh nya aku masih belum bisa membaca.

Mungkin memang pantas aku disebut bodoh.

Sekolah baru, suasana dan tempat  yang kiniku tempati lebih baik dari sekolah dulu. Setidaknya aku punya seorang teman namanya Nayla. Ia cantik dan juga baik.

"Nayla." ujarnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.

Awalnya aku ragu menerima uluran tangan orang yang duduk di sampingku.

"Ana," ucapku. Kami pun tersenyum satu sama lain.

Tidak terasa bahwa hariku mulai berubah, semuanya tampak lebih menyenangkan di bandingkan dulu.

Sekarang aku punya seorang untuk ku ajak bermain, ke kantin atau kemanapun aku tidak lagi sendiri.

"Ke kantin yuk," ajak Nayla.

Aku tersenyum. "Yuk," ucapku mengangguk dengan semangat. kami pun langsung melenggang, keluar kelas menuju kantin.

Seperti biasa suasana kantin tampak ramai.
"Mau?" tawar Nayla memberiku sebuah biskuit rasa keju.

Aku langsung menggeleng kuat."Tidak, aku tidak suka keju," tolakku halus namun, Nayla kembali menyuruhku untuk mencicipi biskuit keju yang ia pegang.

Meskipun aku terus menolak tetap saja Nayla bersikeras menyuruh ku untuk mencoba nya padahal aku lebih suka coklat.

"Baiklah."kataku padanya lalu, memasukkan biskuit tersebut ke dalam mulut.

Nayla menatap fokus ke arahku menunggu respon terhadap makanan yang masuk ke mulut ku.

"Asin, gak enak," ucapku mengembalikan biskuit tersebut padanya.

Nayla tertawa melihat reaksi ku.

"Kenapa tertawa? ini emang asin kok," keluhku tidak terima.

Ia tidak membantah malah menbalas perkataan ku dengan tersenyum.



Bersambung...



#odopbatch7
#onedayonepost
#groupkairo

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota kenangan Oleh: Novita Sari Sumber:www.jawapos.com Apa jadinya tempat tinggal kami? Jika hari ini kotanya, penuh sampah. Tumpukan Plastik seolah pemandangan yang lazim Jalanan macet seolah rutinitas Adakah dari kita yang ingin membedah. Bumi bahkan tak mampu lagi menahan Setiap kelakuan si perusak yang makin merajalela Pohon ditebang begitu saja. Asap menggumpal mematikan setiap oksigen yang mencoba bertahan Bahkan Udara segar hanya tinggal kenangan. Sungguh! Mata ini tak sanggup lagi melihat Seluruh tubuh ini basah oleh ketidakmampuan Apa yang kau inginkan dari kota kami Ia tak lagi elok seperti dulu. Tak adakah dari mereka yang merasa kasihan Melihat kota ini semakin lemah tak berdaya Tolong! Kembalikan oksigen kami Tolong! Kembalikan kota kami seperti dulu. Namun percuma... Rintihan kami tak akan pernah didengar Ditutupi keinginan sepenggal orang yang ingin memperkaya diri Hingga akhirnya kota ini benar-benar mati. Aceh, 15 Septem...
Fiksi dan Non fiksi Sumber: blog.bukupedia.com Ibarat kata, hati sudah menemukan keputusan tempat berlabuh. Hanya saja diperjalanan badai dan ombak,  seolah membuat perahu terombang-ambing di tengah lautan. Hidup selalu memberi dua pilihan, tergantung kita memilih yang mana, namun, percayalah hati punya jawaban terbaik untuk itu. Akhirnya sebuah keputusan harus ku ambil. Fiksi kah atau Non fiksi? Tentu saja aku memilih fiksi, disana aku bebas berimajinasi, membuat jalan cerita yang kusukai. Menciptakan tokoh sesuai keinginan. Aku suka menulis novel, namun terkadang ditengah perjalanan aku selalu merasa bosan, rasa malas menyerang membuatku berhenti menyelesaikannya. Semoga dengan mengikuti ODOP semangatku menjadi lebih kuat, banyak ilmu yang sudah ku dapat dari sana dan bisa menyelesaikan ceritaku hingga akhir. #odopbatch7 #onedayonepost #groupkairo

My Story-part9

My Story-part9 Oleh : Novita Sari Aku bangkit untuk memilih buku yang lain, "mau kemana?" Tanya Siska. "Mau milih buku lain, ini udah selesai baca," ujarku sembari memilih buku yang menarik. Pandanganku berhenti pada sebuah buku, aku ingat sekali judulnya 'nasehat udang tua' hanya saja buku tersebut cukup jauh untukku raih. Sebuah tangan membantuku mengambilnya, aku menerima buku tersebut dengan senang, sambil melihat orang yang sudah membantuku mengambilnya. Senyum diwajahku hilang, setelah menyadari siapa yang membantuku, "Nayla," batinku. Saat itu, aku bisa merasakan suasana sangat canggung, "Terimakasih," ucapku langsung pergi dari sana. Andai saja dulu aku dan Nayla tetap berteman pasti sangat menyenangkan tetapi,  tak apa karena aku bersyukur dengan kejadian itu membuatku lebih dewasa menyikapi masalah. Aku juga sedang mencoba berdamai dengan masa lalu, memaafkan semua orang yang menyakitiku. Sejak saat itu s...