Langsung ke konten utama

Pesan Kematian


Pesan Kematian



Oleh: Novita Sari


Jangan berbalik!
Dia dibelakangmu.
Bisa saja ia sedang berdiri tegak dengan sebuah kapak ditangan, yang siap membunuh mu.

Kau pasti merasakan kehadirannya, jangan takut kamu masih bisa selamat.

Diam dan abaikan.

Tunggu tubuhmu mulai bergetar, kau mulai ketakutan, bulu kudukmu mulai berdiri. Kau pasti sangat ingin berbalik untuk melihat makhluk seperti apa yang berdiri di belakangmu.

Ku katakan sekali lagi.

Apapun yang terjadi Jangan berbalik!

Dalam hitungan kelima segera lari menjauh.




"Sial! Pesan aneh apa ini," ujarku mengumpat. Sebuah pesan aneh terpampang jelas dimonitor laptop.

Aku memang suka membaca cerita horor atau thiller tapi, tidak pernah menemukan cerita segila ini.



Mari mulai menghitung.




Ketikan kalimat itu muncul secara ajaib dimonitor laptop, membuatku merasa peringatan itu seperti nyata.

"Pasti seseorang sedang mengerjaiku," batinku



Lima.




Lagi-lagi kata itu seolah tertulis sendiri.

Aku mulai merasakan hal aneh seluruh tubuhku bergetar.



Empat.




Keringat mulai menetes, padahal tubuhku merasakan hawa dingin yang menyeruak menusuk tulang.




Tiga.




"Sial! Ini terasa begitu nyata." Aku menjadi sangat ketakutan.



Dua




Aku sangat ingin berbalik, mencari tahu apa yang sebenarnya dibelakangku, mencoba menoleh.




Jangan berbalik!




Ketikan itu muncul kembali memperingatkanku untuk menghentikan aksi ku.




Sat...





Sebelum ketikan satu tertera aku segera berlari keluar, dengan nafas terengah-engah.

Sebuah pesan masuk ke ponselku.

Ia tidak akan berhenti.
Kau akan MATI!

Entah kenapa pesan itu seolah berteriak kepadaku, segera aku menghubungi nomor tersebut tetapi, hasilnya nihil, nomor itu tidak aktif.

Aku segera pergi meninggalkan kost menuju rumah Roni namun, aku tidak bisa rasanya tubuhku terjebak, melangkah saja sangat sulit.

Keadaan yang diselimuti kegelapan membuatku tidak bisa melihat dengan jelas. Sebuah siluet tubuh seseorang yang tampak menuju ke arahku.

Aku menyipitkan mata sembari memfokuskan penglihatan untuk melihat objek yang berjalan perlahan kearahku.

Seluruh tubuhku menegang rasanya sendi menjadi lumpuh hingga tak bisa bergerak.

Saat ia semakin dekat aku bisa melihat ia seperti memegang sebuah benda, benda itu terlihat seperti sebuah kapak.


"Kapak," ujarku parau bahkan suaraku kini mulai hilang, aku mencoba berbalik dan berlari, tetap saja tidak bisa.

Keringat mulai bercucuran membuatku takut setengah mati, "Apa semua pesan tadi benar, itu artinya ia datang membunuhku" ucapku tergagap.

Jarak ia dengan tempatku berdiri semakin dekat sampai aku kesulitan bernafas.



"Lex" sebuah panggilan membuatku berbalik.

Tepat setelahnya kapak tersebut berhasil menghunus tubuhku, darah mulai bercucuran, aku merasakan sakit yang luar biasa hingga akhirnya pandanganku kabur dan gelap sepenuhnya.


#odopbatch7
#onedayonepost
#groupkairo









Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Story-part9

My Story-part9 Oleh : Novita Sari Aku bangkit untuk memilih buku yang lain, "mau kemana?" Tanya Siska. "Mau milih buku lain, ini udah selesai baca," ujarku sembari memilih buku yang menarik. Pandanganku berhenti pada sebuah buku, aku ingat sekali judulnya 'nasehat udang tua' hanya saja buku tersebut cukup jauh untukku raih. Sebuah tangan membantuku mengambilnya, aku menerima buku tersebut dengan senang, sambil melihat orang yang sudah membantuku mengambilnya. Senyum diwajahku hilang, setelah menyadari siapa yang membantuku, "Nayla," batinku. Saat itu, aku bisa merasakan suasana sangat canggung, "Terimakasih," ucapku langsung pergi dari sana. Andai saja dulu aku dan Nayla tetap berteman pasti sangat menyenangkan tetapi,  tak apa karena aku bersyukur dengan kejadian itu membuatku lebih dewasa menyikapi masalah. Aku juga sedang mencoba berdamai dengan masa lalu, memaafkan semua orang yang menyakitiku. Sejak saat itu s...
My Story Oleh:Novita Sari Bodoh. Bodoh. Dan Bodoh. Kata itu, sering terdengar. Semua orang di kelas memanggilku dengan sebutan itu. Teman. Tentu saja aku tidak punya, sejak Tk hingga SD aku selalu sendiri. Mereka hanya mendekatiku jika perlu bantuan atau ketika aku punya mainan baru, miris memang tapi, aku mulai terbiasa dengan hal tersebut. Hingga suatu hari aku pindah sekolah. Saat itu, aku masih kelas empat SD dan aneh nya aku masih belum bisa membaca. Mungkin memang pantas aku disebut bodoh. Sekolah baru, suasana dan tempat  yang kiniku tempati lebih baik dari sekolah dulu. Setidaknya aku punya seorang teman namanya Nayla. Ia cantik dan juga baik. "Nayla." ujarnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Awalnya aku ragu menerima uluran tangan orang yang duduk di sampingku. "Ana," ucapku. Kami pun tersenyum satu sama lain. Tidak terasa bahwa hariku mulai berubah, semuanya tampak lebih menyenangkan di bandingkan dul...
My Story-part4 Oleh : Novita Sari Kami memutuskan untuk bermain dan meninggalkan PR matematika begitu saja. Tanpa beban, tanpa ketakutan hanya ada kata bahagia. Punya teman memang sangat menyenangkan karena ketika kita masih kecil yang kita butuhkan hanya main dan main. Kami berlarian, bermain petak umpet, boneka dan permainan seru lainnya. Kuharap persahabatan kami akan terus bertahan selamanya. "Kenapa tersenyum ke arahku ?" tanya Nayla heran. Aku langsung menggeleng pelan sembari kembali menatap langit bersama. Setelah selesai bermain, kami kembali mengerjakan PR matematika. Hingga sore hari. * * * "Lihat aku punya buku baru." Evi kemudian menunjukkan buku bersampul barbie yang ia pegang. Aku sebenarnya sebenarnya tidak terlalu suka sikap Evi, ia terlalu pemilih, sombong dan juga pamer seperti saat ini. Selang beberapa menit, pelajaran pun di mulai. "Hari ini, ibu ingin kalian membaca di depan kelas," ungkap Bu Ratna_Gu...