Langsung ke konten utama

Sekilas tentang ODOP

ODOP adalah sebuah komunitas menulis One Day One Post.

Oleh: Novita Sari 



Menjadi penulis adalah sebuah perjalan panjang yang penuh dengan keraguan. aku mulai merasa putus asa ketika tak ada sedikitpun inspirasi menulis ditambah dengan pengetahuanku yang minim tentang dunia literasi, semua hal tersebut membuatku menyerah rasanya terlalu sulit untuk menjadi penulis, hingga suatu hari salah seorang temanku berbagi informasi tentang ODOP 

Sebuah  komunitas yang membantuku mengejar mimpi menjadi dekat. ODOP bagiku bukan hanya sebuah komunitas tapi, lebih ke sebuah ikatan yang memhubungkan pemimpi sepertiku untuk menjadi percaya diri dengan karya kecil yang kami hasilkan.

Aku merasa sangat beruntung menjadi bagian dari ODOP. disana aku bisa belajar banyak hal tentang kepenulisan ataupun tentang dunia literasi. tanpa pernah bertemu atau mengenal secara langsung.

Terimakasih untuk kakak pemateri, kakak pj dan semua anggota odop yang sedang berjuang karena sudah mau berbagi ilmu tanpa pamrih. aku merasa sangat senang dan beryukur disaat bersamaan 

Suatu hari kegiatan  ODOP akan berakhir namun, ilmu yang diajarkan akan selalu mengalir, dimana para anggota ODOP akan berganti dan para pemimpi baru akan semakin bersemangat. 



#odopbatch7
#onedayonepost
#groupkairo

Komentar

  1. Semakin tahu odop saya, semoga odop sukses selalu πŸ€—πŸ€—πŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiinn, akhirnya bisa balas komen di blog πŸ˜…

      Hapus
  2. Selamat datang dihari pertama ODOP, sensasinya mulai kerasa kan y? Hihii

    BalasHapus
  3. Salam sukses kakak-kakak odop... Berjuang bersamaπŸ˜…

    BalasHapus
  4. Semangatttt kakak....saya baru pertama nih ikutan odop πŸ€—

    BalasHapus
  5. Terus semangat dan ditingkatkan, ya ^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota kenangan Oleh: Novita Sari Sumber:www.jawapos.com Apa jadinya tempat tinggal kami? Jika hari ini kotanya, penuh sampah. Tumpukan Plastik seolah pemandangan yang lazim Jalanan macet seolah rutinitas Adakah dari kita yang ingin membedah. Bumi bahkan tak mampu lagi menahan Setiap kelakuan si perusak yang makin merajalela Pohon ditebang begitu saja. Asap menggumpal mematikan setiap oksigen yang mencoba bertahan Bahkan Udara segar hanya tinggal kenangan. Sungguh! Mata ini tak sanggup lagi melihat Seluruh tubuh ini basah oleh ketidakmampuan Apa yang kau inginkan dari kota kami Ia tak lagi elok seperti dulu. Tak adakah dari mereka yang merasa kasihan Melihat kota ini semakin lemah tak berdaya Tolong! Kembalikan oksigen kami Tolong! Kembalikan kota kami seperti dulu. Namun percuma... Rintihan kami tak akan pernah didengar Ditutupi keinginan sepenggal orang yang ingin memperkaya diri Hingga akhirnya kota ini benar-benar mati. Aceh, 15 Septem...
Fiksi dan Non fiksi Sumber: blog.bukupedia.com Ibarat kata, hati sudah menemukan keputusan tempat berlabuh. Hanya saja diperjalanan badai dan ombak,  seolah membuat perahu terombang-ambing di tengah lautan. Hidup selalu memberi dua pilihan, tergantung kita memilih yang mana, namun, percayalah hati punya jawaban terbaik untuk itu. Akhirnya sebuah keputusan harus ku ambil. Fiksi kah atau Non fiksi? Tentu saja aku memilih fiksi, disana aku bebas berimajinasi, membuat jalan cerita yang kusukai. Menciptakan tokoh sesuai keinginan. Aku suka menulis novel, namun terkadang ditengah perjalanan aku selalu merasa bosan, rasa malas menyerang membuatku berhenti menyelesaikannya. Semoga dengan mengikuti ODOP semangatku menjadi lebih kuat, banyak ilmu yang sudah ku dapat dari sana dan bisa menyelesaikan ceritaku hingga akhir. #odopbatch7 #onedayonepost #groupkairo

My Story-part9

My Story-part9 Oleh : Novita Sari Aku bangkit untuk memilih buku yang lain, "mau kemana?" Tanya Siska. "Mau milih buku lain, ini udah selesai baca," ujarku sembari memilih buku yang menarik. Pandanganku berhenti pada sebuah buku, aku ingat sekali judulnya 'nasehat udang tua' hanya saja buku tersebut cukup jauh untukku raih. Sebuah tangan membantuku mengambilnya, aku menerima buku tersebut dengan senang, sambil melihat orang yang sudah membantuku mengambilnya. Senyum diwajahku hilang, setelah menyadari siapa yang membantuku, "Nayla," batinku. Saat itu, aku bisa merasakan suasana sangat canggung, "Terimakasih," ucapku langsung pergi dari sana. Andai saja dulu aku dan Nayla tetap berteman pasti sangat menyenangkan tetapi,  tak apa karena aku bersyukur dengan kejadian itu membuatku lebih dewasa menyikapi masalah. Aku juga sedang mencoba berdamai dengan masa lalu, memaafkan semua orang yang menyakitiku. Sejak saat itu s...